Kamis, 03 Juni 2010

Israel dan Kemanusiaan yang (Tidak) Beradab

Oleh: Ade Oktiviyari*

“Israel telah melakukan pelanggaran HAM besar: menggusur, membunuh anak-anak dan wanita, bahkan melarang bantuan kemanusiaan.” –Amnesty Internasional

Berita tentang penyerangan Israel terhadap kapal Mavi Marmara, yang membawa misi bantuan kemanusiaan internasional ke Jalur Gaza, Palestina, pada hari Senin yang membawa bantuan kemanusiaan ke Palestina memicu berbagai reaksi dari dunia Internasional. Pemerintah Swiss, Yunani, Swedia, Jerman, dan beberapa Negara lain telah mengeluarkan pernyataan resmi mengutuk tindakan brutal ini. Bahkan Yunani telah menarik diri dari latihan militer bersama Israel sebagai bentuk sikap protes atas serangan yang telah menewaskan 20 orang ini. Bahkan yang menakjubkan, pemerintah Indonesia ikut mengeluarkan kecaman terhadap kejadian ini. Terutama menyangkut nasib 12 WNI yang ada diatas kapal tersebut. Kecaman masih terus mengalir hingga hari ini dan hari-hari ke depan. Karena peristiwa ini, selain dilakukan pada relawan kemanusiaan, juga terjadi pada perairan Internasional, yang seharusnya bukan merupakan wilayah yang menjadi hak Israel untuk bertindak.

Reaksi dunia Internasional yang sungguh luar biasa ini adalah yang kedua setelah peristiwa blockade dan pembombardiran Gaza beberapa waktu lalu. Serentatan kejadian ini seolah mempertegas kekejaman Israel yang sebelumnya ditutupi dengan berbagai dalih. Tapi tampaknya, Israel mulai kembali menunjukkan muka duanya, termasuk dengan mengeluarkan statement bahwa semua relawan yang memukul tentara Israel di atas kapal itu akan dituntut dan dijebloskan dalam penjara. Bayangkan! Semua yang dilakukan Israel menjadikan dirinya dari pelaku menjadi korban. Seperti modus operandi yang telah dikenal menjadi tabiat dan keahlian bangsa Israel.

Kekejaman Israel sebenarnya bukan barang baru. Bahkan sejak dari awal Israel resmi menduduki Palestina melalui White Agreement dengan Inggris pasca PD II, Israel telah menunjukkan serentetan kekejaman diluar batas kemanusiaan. Sejarah mencatatnya sebagai geinocide (pemusnahan suatu suku atau ras). Serangkaian peristiwa itu diantaranya adalah: Pembantaian Qabbiyah, yaitu pembantaian massal di wilayah Qabbiyah seluas enam belas ribu hektar pada tahun 1953, semua keluarga yang tinggal pada wilayah ini dibantai; Pembantaian shabba Shatilla, yang merupakan salah satu pembantaian paling popular yang pernah ada. Pembantaian ini dilakukan di Lebanon, tepatnya di kamp pengungsian warga Palestina pada tahun 1982. Jumlah korban tewas saat itu mencapai 12 ribu orang, termasuk wanita, anak-anak, dan orangtua; Pembantaian Qana pada tahun 1986. Saat itu tentara Israel menghujani kamp-kamp pengungsian di Qana, Lebanon dengan roket dan rudal. Korban: 100 orang; Pembantaian As-Duwaimah pada tahun 1948 yang mungkin merupakan pembantaian terkeji. Semua korban dibunuh dengan dipecahkan kepalanya.

Israel membangun gardu-gardu di tiap perempatan jalan. Tiap orang yang melewatinya akan mendapatkan kesempatan ‘interogasi’ yang bisa berujung pada kematian, apalagi jika dicurigai sebagai anggota HAMAS (Harakah Muqowwamah Al-Islamiyah), sebuah pergerakan pemuda-pemuda Palestina yang berdiri untuk menentang Israel dan mengenyahkannya dari tanah Palestina. Anak-anak bahkan wanita pun tak luput dari peluru-peluru Israel saat melewati gardu-gardu itu. Pada tahun jumlah pos-pos ini telah meningkat menjadi 2653 pos. dapat dibayangkan bagaimana terror yang ditebarkan di tempat-tempat itu.

Tidak hanya umat muslim dan warga Palestina saja yang merasakan kekejaman itu. Selain pada penumpang kapal Mavi Marmara yang menunjukkan bahwa Israel tidak pandang bulu dalam membantai, sikap ini telah ditunjukkan sejak lama, tanpa memandang kewarganegaraan, status, dan agama. Bahkan sejak invasinya, Israel telah membunuh ratusan tenaga medis, wartawan (termasuk wartawan asing), warga sipil yang termasuk didalamnya wanita, orangtua, dan anak-anak. Untuk penghancuran juga demikian. Tak hanya mesjid, ratusan gereja pun telah diratakan Israel dengan tanah dalam upaya perluasan wilayah kekuasaannya.

Sejumlah kekejaman Israel di atas bukan barang baru. Itu sudah menjadi cerita lama dan bahkan hanya segelitir dari kekejaman Israel di wilayah Palestina. Apalagi setelah pembangunan tembok apartheid sejak tahun 2002 yang membatasi wilayah Israel dan Palestina. Tembok yang merupakan ide orisinal Ariel Sharon, mantan PM Israel ini sepanjang 721 kilometer, dengan tinggi 25 kaki atau hampir delapan meter. Dalam jarak tertentu, dibangun sebuah tower, tempat tentara-tentara Israel yang biadab berjaga dan mengintai. Sepanjang tembok dipasangi alat pendeteksi panas tubuh manusia, kamera pengintai inframerah, dialiri listrik dan sniper yang siap memuntahkan peluru-peluru tajamnya. Tembok rasis ini juga menghalangi penduduk Palestina dari akses listrik, air bersih, dan bahan makanan.

Tentang perjanjian damai, telah berkali-kali dilakukan antara perwakilan Israel dan Palestina. Yang terkenal, mungkin adalah perjanjian Camp David I, II, dan seterusnya. Kemudian ada Konferensi Annapolis, tapi ujung-ujungnya konferensi ini diboikot oleh Negara-negara pro Palestina karena dianggap sebagai upaya mengukuhkan kekuasaan Israel di Palestina. Selain itu, semua perjanjian damai yang telah diadakan kembali dimentahkan dengan aksi-aksi kekerasan dan upaya perluasan wilayah yang terus berlanjut dengan massif. Hingga hari ini, kemerdekaan Palestina atas Israel masih menjadi impian. Kasus-kasus kekerasan terus meningkat.

Satu hal yang menarik adalah kemampuan Israel untuk menanggapi isu pelanggaran HAM yang dilakukannya dalam 60 tahun terakhir ini. Sebagaimana yang dikatakan di awal, Israel memiliki kemampuan untuk menjadikan dirinya korban ketimbang pelaku. Pada masa-masa awal pendudukannya di Palestina, Israel terus menerus mengirimkan pesan bahwa ia adalah korban dengan cara menyiarkan lewat media-media yang mereka miliki tentang aksi ‘bom bunuh diri’ yang dilakukan oleh para penduduk Palestina dengan brutal. Sehingga memicu reaksi bahwa Israel adalah tamu yang datang lalu menjadi korban dari kekejaman penduduk Palestina.

Baru pada Juni 2007, ketika dimulainya blockade oleh Israel yang dibantu oleh pemerintah Mesir, mata dunia mulai terbuka. Apalagi saat itu akses informasi mulai terbuka, tidak terlalu tertutup seperti sebelumnya. Media-media seperti Al-Jazeera dengan giat memperbaharui perkembangan Palestina dalam masa-masa blokade. Terutama saat tragedy pengepungan dan pembombardiran Gaza, mata dunia seolah terbuka lebar terhadap penderitaan Palestina yang sesungguhnya. Bantuan mengalir secara deras, media memberitakan perkembangan Gaza secara intensif, dan jutaan relawan dari seluruh dunia bergerak ke Gaza. Juga di Indonesia, aksi peduli Palestina berlangsung secara rutin, termasuk pengumpulan dana dan bantuan.
Sekarang, tragedi yang sama, bahkan lebih menunjukkan wajah Israel yang sesungguhnya kembali terulang. Apakah kita hanya bisa diam dan mengecam? Atau bahkan memilih kontra terhadap Palestina dan menyalahkan para relawan karena mempertaruhkan nyawanya untuk kemanusiaan?

Entahlah.

Berbagai reaksi masih mengalir hari ini, besok, dan mungkin beberapa minggu kedepan. Tapi akankah berhenti hanya sampai disitu? Lalu Palestina yang membara kembali dilupakan. Padahal Palestina adalah tanah tempat 3 pertemuan agama besar. Tanah para nabi. Akankah kita membiarkan Palestina diinjak-injak dan dinodai oleh sekelompok Yahudi yang membawa panji-panji Israel?
Saya yakin kita masih punya doa untuk Palestina hari ini. Dan mungkin sedikit uang yang disimpan dari puasa terhadap produk-produk yang mendanai Israel, serta sedikit uang yang dikucurkan untuk Palestina. Kita yakin, Palestina akan merasakan kemerdekaannya kembali, suatu hari nanti.
*Penulis adalah anggota Forum Lingkar Pena.

*telah dimuat di Harian Aceh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar