Selasa, 31 Agustus 2010

20/80

"Seonggok kemanusiaan terkapar, siapa yang mengaku bertanggung jawab? Bila semua pihak menghindar, biarlah saya yang menanggungnya, semua atau sebagiannya (Ust. Rahmat Abdullah)"

Di malam ke-22 ini, saat membaca pesan beliau yang telah lama terlupa ini, hati saya seolah dibebani batu besar.

Allah...�
Berapa banyak yang berada pada jalan dakwah ini?
Berapa banyak yang berlari menyosong pintu keluar dari jalan dakwah ini?
Sedang tiap ada yang berlari keluar, maka yang tertinggal merasa seolah beban yang dipikul menjadi berkali lipat besarnya
Maka saya hanya bisa berdoa
Sambil merasakan rindu yang berlipat-lipat pada saudara yang menjauh

Moga Allah mempertemukan kita pada akhir yang sama indahnya, meski kita telah menempuh jalan yang berbeda.

Maka sahabatku, mari kita menjawab bersama seruan itu, sebagaimana para hawariyun menjawab tanya Nabi Isa as.

"Siapa penolong agama Allah?"
"Kami! Kami penolong agama Allah..."

Insya Allah... Allahumma Amiin...

*sungguh, jika kita takut menjadi munafik dengan berada di jalan dakwah ini, karena merasa "belum" ikhlas, maka bukankah lebih baik "belum" ketimbang "tidak"? Mengapa harus memilih "tidak" beramal ketimbang beramal tapi "belum" ikhlas? Padahal "belum" bisa menjadi "sedang" atau "sudah", sebaliknya "tidak" akan tetap "tidak"

Saya ingat bahwa Hasan Al-Banna pernah menjawab hal yang sama, saat seorang ulama di atas mimbar bertanya ttng siapa yang bisa memikul peradaban, dalam hati kecilnya beliau menjawab, "Saya!" Maka kuatkan azzam kita, sahabat. Umat ini terlalu besar untuk diperjuangkan dengan mental kerdil...

Minggu, 22 Agustus 2010

Lukisan Sepi

Bagaimana melukis sepi?
Kuasku mandek
Mataku segaris
Cat berbaris sepanjang lantai.

Bingung
Mungkinkah cukup dengan S-E-P-I?
Atau
Adakah warna lain
yang bisa tergurat?
Hening
Bening
Sendiri
Ngilu
Warna sepi,
adakah?

Bantu aku
Cerita saja
Aku dengar
Sebab buntu
Asbab rindu

Atau sepi itu,
Jangan-jangan...
K-I-T-A?

*saat rindu sekali

Rabu, 18 Agustus 2010

(FF) Hati Seorang Anak

"Aku tidak perlu Ayah lagi, usiaku sudah 30 tahun dan aku sudah tahu segalanya."
"Nak," Tampang lelaki berusia 60 tahun-an itu melemas, kakinya mulai bergetar. "Tapi aku ayahmu."
"Mengapa baru sekarang jadi Ayah? Kemana selama 25 tahun ini? Aku hidup tanpa Ayah dan aku baik-baik saja!"
Air mata mulai tumpah, laki-laki itu sesenggukan. Tidak dipedulikannya orang sekitar yang menatap heran. Gadis di depannya masih memandangnya penuh bara.
"Aku pergi."
Hingga sosok gadis itu berlalu, lelaki itu masih menangis. Tak dipedulikannya air mata lelaki yang terlalu mahal. Sebab ia ingin menyesal, sebab ia ingin kembali ke waktu gadis itu masih bisa dibuainya dalam dekapan, juga waktu gadis itu masih menggenggam tangannya untuk naik ke atas vespa mereka.

***

Gadis itu melenguh, tangannya dingin. Berkali-kali ia memaki dirinya dalam hati. Apa arti sejuta pengajian yang telah diikutinya sejak SMA? Apa arti kajian yang telah dibinanya? Apa arti dakwah yang dilakoninya? Dan segala hal yang mengikutinya?

digenggamnya lengan bajunya keras. Matanya menatap ke arah tas yang sedari tadi disandangnya, menembus ke dalam, ke arah kertas merah hati yang terlipat manis di dalamnya.

"Aku telah lama menantimu. Maukah engkau jika kita segera menikah? Temui ayahmu, maafkan ia dan mintalah ia jadi wali nikahmu."

Air mata itu luruh, terus hingga sore menjelang.