Rabu, 06 Oktober 2010

SIapa Saya?

Akhir-akhir ini saya kehilangan orientasi. Fokus saya menipis, begitu saja. Dan saya tersadarkan bahwa saya masih manusia biasa sahaja. Akhirnya saya sampai juga pada titik titik yang selalu saya sadari, namun saya hindari. Titik dimana saya sadar saya bukan superwoman seperti yang saya sangka selama ini. Sosok yang bisa selalu optimis, kuat, tidak pernah lelah, menjadi pemimpin, tenang,menyelesaikan semua masalah, dan selalu memiliki motivasi. Saya gagal menjadi manusia luar biasa yang selalu saya impikan.

Karenanya setelah sekian lama, saya memutuskan untuk duduk saja sambil menyeruput segelas teh lemon, membiarkanketerbiasaan mengendap.

Saya masih punya agenda rapat mingguan.
Agenda rapat 2 mingguan.
Rapat yang saya koordinir sendiri.
Saya masih pnya sekretariat organisasi yang bisa saya kunjungi: FLP dan mushalla Asy-Syifaa'
Saya punya jadwal kerja mingguan
Saya punya meeting-meeting tertentu
Saya punya tugas yang harus diselesaikan
Dan jadwal bimbingan proposal skripsi
Serta kerjaan rumah selaku seorang anak

Saya merasa telah kuat. Saya bebas stress. Saya sanggup menyelesaikan 10 agenda yang berbeda dalam sehari. Semuanya mudah, saya bersyukur berkali-kali dan tetap berlari.

Hingga saya sadar.
Hanya satu sentilan kecil dan saya sadar.

Siapa saya?

Maka saya mulai mundur dan duduk di pojok kecil, merenung.

Berapa banyak SMS sapaan dari sahabat yang kerap tidak saya balas?
Berapa banyak sahabat di MP atau FB yang tidak saya sapa lagi?
Berapa kali saya mengingkari janji atau membatalkan janji sillaturrahim?
Berapa kali saya meminjam dan luput mengembalikan?
Kapan terakhir kali saya benar-benar duduk dan merenungi kelemahan saya?

Mendadak saya tersadarkan dari keluarbiasaan yang saya pikir telah saya miliki
Dari kesombongan yang tanpa sadar telah saya biakkan dalam hati
Dari ketinggian yang telah menjadikan saya lebih rendah

Saya sadar...
Bahwa saya masih manusia biasa
Astaghfirullah...
Saya masih hamba Allah...

Saya membiarkan pikiran tentang KELUARBIASAAN menjadikan saya lengah.
Hingga saya telah kehilangan begitu banyak hal
Mungkin saya telah meninggalkan kalian begitu jauh, karena saya mundur ke belakang ratusan langkah....
Saya meninggalkan kalian dengan hal-hal yang saya jadikan kecil. Padahal hal-hal besar yang saya kira tengah saya kerjakan telah menjadikan saya KERDIL.
Saya meninggalkan kalian dengan rasa ANGKUH yang saya miliki.

Maaf...

*setelah pikiran bertanya dan menggedor-gedor kembali "SIAPA SAYA???"

Adikku di dalam Amplop

Adikku berada di balik dinding-dinding kaca
Adikku perlahan mengintip dari balik dindingnya

Kaca luruh
Dia melangkahdan menatapku

Haruskah aku melipat adikku
Dan memasukkannya ke dalam amplop kertas?

Untuk kemudian kukirimkan ke antah berantah

Tanpa alamat tujuan

Sabtu, 02 Oktober 2010

Jejak Yang Terbuat dari Aku

Bahkan saya ingin hidup setelah kematianku!!!

Kata siapa itu?
Kawan, tak usah bingung. Sila kau google saja. Kau akan mendapatkan banyak orang meng quote deretan kata ini, tentu dengan redaksi yang berbeda.

Apa semangat yang dapat kau tangkap dari kata-kata ini?
Hidupkah?
Atau kematian?

Saya pernah dikirimi SMS oleh seorang teman,
GODISNOWHERE


Coba baca!
Apa kau melihat:
GOD IS NO WHERE???

ATAU


GOD IS NOW HERE???


Kedua cara membaca itu bisa saja sama2 benar. Tergantung persepsimu. Demikian jg dengan cara engkau menanggapi quote di atas. Silakan tanggapi bahwa quote itu bicara tentang kehidupan, atau bicara tentang kematian.

Hanya saja, saya tidak ingin bicara tentang itu sahabat,
Karena inti dari quote itu sebenarnya adalah tentang meninggalkan JEJAK, sehingga nama tidak pudar, bahkan setelah kematian.

Dan bagaimana cara meninggalkan jejak?

Ah, banyak! Banyak sekali cara meninggalkan jejak. Sebagaimana Hitler meninggalkan jejak dengan goresan berdarah dalam sejarah, sebagaimana Cinderella meninggalkan sepatu kacanya, atau Jerry meninggalkan kejunya agar tidak dimangsa Tom, setiap orang punya cara terbaik untuk meninggalkan jejak.

Sekarang, saya tengah meninggalkan satu jejak di sini.

Apa jejak engkau, teman?