Sabtu, 31 Oktober 2009

Saturday Night?

Apa arti sebuah malam minggu?

hingga para musisi harus membuat sebuah lagu khusus, "Saturday Night Fever"

Padahal malam minggu, atau sabtu malam, adalah sebuah hari yang biasa. waktu yang biasa. malam yang biasa. lantas apa yang istimewa?

jika dikatakan bahwa malam minggu itu istimewa karena keesokan harinya adalah minggu yang menjadi hari libur? maka tidakkah banyak hari libur lain yang tidak jatuh pada hari minggu?�

dan jikalau malam minggu itu libur karena besoknya libur? maka apakah hakikat sebenarnya dari hari libur? apakah dapat disebut hari libur semata-mata karena ketiadaan jadwal sekolah dan kuliah? tidakkah ada amalan jama'i lain yang menunggu digarap, dan amalan harian yang tidak mengenal hari libur?

Bahkan malaikat pencatat amalan tidak libur pada hari Minggu. juga pada hari-hari lainnya. maka adakah makna dari bergadang pada malam minggu? lalu kesiangan shalat Subuh keesokan hari?

dan bahkan kewajiban pada umat manusia, tanggungan sebagai seorang hamba, tidak mengenal kata libur, malam mingguan. jadi mengapa harus bingung terhadap apa yang akan dilakukan pada malam minggu?

dan tidak ada perbedaan yang berarti pada tiap malam, dan bahwa setiap malam adalah saat pertanggungjawaban itu dipertanyakan.

sudah siap jika malaikat maut menjemput pada suatu malam minggu yang ramai?

Siapkah?

*renungan pada suatu malam minggu

Selasa, 27 Oktober 2009

SENDIRI

apa istimewanya sebuah hari lahir?
tanggal sewaktu kita pertama kali dilahirkan,keluar dari kehidupan intrauteri menuju kehidupan ekstrauteri. tanggal dan bulan saat kehangatan bergelung dalam belaian air ketuban berganti menjadi suatu rasa yang dingin,atau suhu yang lebih panas. tak ada lagi perlindungan 24 jam tanpa henti2, kemudahan yang seolah surga, dan kenyamanan yang tanpa usaha. ketika lahir, semua berubah kepada satu titik: keseorangan.

Ya, keseorangan, kesendirian, dan kesepian.

"keadaan dasar jiwa manusia adalah kesepian" kata Muhammad Iqbal. sosoknya selalu diluputi sunyi. Dan memang, kemanusiaan lebih terefleksi saat manusia membersamai sunyi dan jauh dari hiruk piruk. karena begitulah seorang manusia, seperti apapun dia di mata manusia lain, yang ada baginya hanya satu kenyataan bahwa ia sendiri. hanya sendiri dalam menjalani takdirnya, sendiri dalam memutuskan segala sesuatu,hingga sendiri dalam kematian.

Pasangan, orang tua, teman, hanyalah aksesoris pinjaman pelengkap kehidupan. mereka menemani, tapi tak abadi. semua bisa hilang, bahkan untuk satu detik ke depan. dan tak dapat ditahan, sebab semuanya hanya pinjaman.
hingga akhirnya: SENDIRI

sendiri tidak bermakna sepi, sebagaimana sepi tidak bermakna kesendirian. hanya saja, memaknai perjalanan ini sebagai perjalanan sunyi dapat mewakili keadaan tiap manusia. sebab manusia seringkali tdk menyadari ttng kesendiriannya. berlari kepada teman, sahabat, pasangan,orang tua, tanpa menyadari bahwa jawaban dari segala sesuatu itu terletak pada diri sendiri. bahkan bukan pada orang lain ataupun siapapun.

Dan demikian kita semua berproses memahami hidup, bahwa kita selalu sendiri dalam kehidupan, dan bahkan setelah kematian.
Lalu mengapa harus takut menjadi sendiri? mengapa harus takut kesepian?
Sebab memang kita hanya berseorangan, yaitu dengan DIRI SENDIRI.

Dan hari lahir, adalah moment pengingat kesendirian ini, karena kesendirian ini adalah sunyi yang sendiri, tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat.

*gambar dari: http://images.paraorkut.com/img/pics/images/a/alone-13004.jpg

Selasa, 20 Oktober 2009

dengan apa lagi harus kunyatakan cinta?

Allah...

bahkan dengan bahasa cintaku yang paling sederhana

ingin kuterjemahkan segumpal rindu ini padamu

gumam tanya, gaung sonor di ruang surau

dengan bentuk sesederhana apa cinta ini harus kusuarakan?

Bahkan hampa, gelisah saat memandang

sederet manusia, bertahta di warung kopi hingga petang membayang dan adzan memenuhi negeri dengan suara lelah,akan panggilan yang diabaikan

lalu dengan bahasa cinta apa akan kuisyaratkan rindu untuk serambi mekah?

ia mulai karam

saat aku memandang pintu mesjid, surau, mushalla,langgar

aku terkesiap,sebab daun pintu, jendela, bahkan mimbar mulai berdebu

maka dengan bahasa cinta mana lagi akan kunyatakan?

atau bahasa cintaMu, bersama tasbih ombak yang menggunung

lebih menyentuh hati para pecinta

dan aku, tidak lagi punya puisi cinta untuk disentakkan

hanya doa dan satu pinta

suatu hari kelak, hanya ayat-ayatMu yang menggema,

yang mampu mengalahkan kepulan asap rokok dan tawa yang menggema Maghrib...

Jumat, 16 Oktober 2009

Tentang Maaf


Mungkin kalau dia tidak bicara seperti itu, aku tidak akan ingat,
"Lupakan..." lalu kuturuti. aku melupakan, meski tidak sepenuhnya. hanya hatiku tidak mau memaafkan.Belum...
***
"De, memaafkan bukan berarti melupakan." satu nasihat yang berbeda saat kami duduk di atas bebatuan, menatapi batas laut sambil merasai air laut menjilat kaki hingga ke betis.

Aku menatapnya."bukankah forgiving is forgetting?"

Dia menggeleng,"Tidak selalu. Bahkan melupakan tidak berarti memaafkan."
Aku tertunduk, mengapa begitu sulit?

"Menurutmu, aku bisa?"

Dia menatapku, dalam hingga menyelami rasa ,dan dia hanya menyatakan satu kalimat yang membuat ombak yang menari-nari membasahi rok kami menenggelamkan hatiku,"Kamu pasti bisa De. jutaan orang bisa,kenapa kamu enggak? bahkan, kamu telah berhasil melewati semuanya sejauh ini."

"Menurutmu aku harus?"

Dia tidak segera menjawab, hanya merapikan roknya yang berantakan tertiup angin laut,"Tentu saja kamu harus de.Semua orang juga harus. Hanya saja, keharusan itu untuk dirimu, bukan untuk siapapun. Bahkan bukan untuk orang yang kamu benci. Itu untuk dirimu: ketenangan, dan kebahagiaanmu sendiri."

Aku menatapinya, dia, yang selalu membuatku salut dengan kemampuannya melewati badai. Bahkan sejak kami SMA, dia masih yang terbaik dengan ketenangan dan ketabahannya. Dia adalah sumber telagaku.
"Lalu kamu, akan kemana?"

Dia menjawab mantap, seolah kalimat itu telah lama menunggu untuk dimuntahkan, "Aku akan menikah De. Akhirnya, aku bisa bebas."

Kutatapi dia, tak mampu menyiratkan apapun;takjub. Usia kami sama. dan bahkan saat aku masih bergelut dengan kekonyolan-kekonyolan seorang remaja di usia menjelang 20, dia telah siap menutup lembar kesendirian dengan seorang pangeran di sisi. kutatap dia lebih teliti, tak ada keraguan dan kecemasan di bola matanya.
"Bagaimana kamu bisa begitu siap?"
Dia tersenyum, merapikan helai-helai rambut yang melompat-lompat dari balik kerudungnya."Ade, kamu tidak akan mengerti. Karena situasi kita berbeda. jika kamu di posisiku, kamu akan mengerti." Dia terdiam, "aku ingin bebas..."

Aku tersenyum. Kembali, kami menatapi ombak yang kian mengganas di penghujung siang. meski hatiku masih tergelitik dengan beragam hal, tapi hanya dengan kehadiran seorang sahabat yang dipersatukan dengan doa, membersamai dzikir ombak, semuanya menjadi bening. mengaminkan harapannya diam-diam. Allah...bebaskan dia.

aku merasai mataku hangat, meski bukan bermakna sedih. tapi lega yang tak bertepi

Akhirnya, aku siap memaafkan...

*Kenangan di Pantai uleelhe itu, bahkan aku tidak perlu kamera untuk mengabadikannya. Moga berbahagia, sahabat. Barakallah...

Jumat, 09 Oktober 2009

Live in the Bubble

Pernah dengar film Bubble Boy? Filmnya memang udah jadul,udah lama banget.berhubung aku orangnya rada gaptek untuk urusan film dan musik,jadi baru-baru ini juga nontonnya.

Film ini mengisahkan tentang seorang anak yang lahir tanpa imunitas tubuh sama sekali.dengan kata lain, kuman sekecil apapun dapat membunuhnya dalam sekejap. oleh orang tuanya, untuk menyelamatkan anak mereka,jadilah bayi laki2 itu diisolasi dalam sebuah tempat plastik steril yang bebas kuman, dan menjalani hari-harinya dengan proses sesteril mgk.baik dari makanan, perkakas, baju, dll.Usaha orang tuanya berhasil, bayi tanpa imunitas itu tumbuh besar dalam ruang isolasinya sebagai remaja kurus yg tidak pernah melihat dunia luar selain dari TV yang ada di kamarnya.tapi setidaknya, dia hidup.

masalah lalu timbul saat cowok ini mulai jatuh cinta pada gadis tetangganya, dan sadar bahwa dia gak bakal bisa mendapat gadis ini (gimana mau dapat,bahkan untuk menyentuh aja gak bisa?). tapi cowok non antibodi ini tidak menyerah, sehingga ketika dia dengar bahwa gadis itu akan menikah, dia mati2an merancang sebuah baju steril (seperti baju astronot tapi bentuk balon), dan pergi ke tempat pernikahan. And the last...mgk bisa ditonton sendiri.

Ketika melihat film ini,seperti melihat sebuah realita yang aneh.

Tahu Cedric? bocah ini adalah bubble boy dalam kehidupan nyata.tulang sumsum belakangnya dimatikan dengan radiasi, hingga seluruh sistem imun tubuhnya hilang. dan dia tinggal dalam ruangan gelembung, terisolasi dari dunia penuh kuman hingga mendapat donor sumsum kelak, mgk suatu hari di masa depan.

Melihat dua fakta berbeda dalam dunia yang berbeda menjadikan aku �memikirkan satu hal, imune it, not sterilize it.tidak ada kehidupan yang benar-benar 'hidup', jika hanya terpaku pada upaya mensterilisasikan segala sesuatu. mengapa? karena upaya sterilisasi hanya menciptakan tembok-tembok pengukung seperti penjara plastik di sekitar manusia, dan akhirnya ketika tembok itu berlubang dan invasi kuman terjadi, it's the end of all.

Saat orang tua mengingnkan anaknya baik, mgk sebagian besar di antara mereka akan menutup pintu akses ke arah keburukan: melarang si anak pulang malam, melarang nonton film dewasa, melarang membuka internet (karena takut si anak mengakses situs porno), dll.Tapi semua pelarangan itu bukan menjadi sistem imun, melainkan sterilisasi.si anak akan steril, tapi tak terimunisasi.ketika semua tembok itu jebol, saat dia harus indekos di luar kota misalnya,maka dia akan keluar malam, nonton film2 dewasa, membuka situs2 porno.Kenapa? ya, karena dia sekarang telah terinfeksi, karena dia tidak pernah memiliki imun, hny pengukung.

Lalu jika ada imun? Dia, seorang teman membuatku mengerti ttng imun, "Aku tidak melakukan itu,bukan karena tidak mampu de. tapi karena aku tahu bahwa itu dosa.Ya,dosa,sesederhana itu. tidak perlu alasan yang rumit."

Aku tercengang waktu dia menjawab pertanyaan bodohku: mengapa tidak pacaran? karena aku melihat dia hanya dari suatu segi, dimana dia adalah bagian dari komunitas remaja yang lekat dengan istilah TTM, HTS, dll (tau g maksdnya?). bagi dia,seharusnya mudah saja untuk pacaran. itu yang terlihat oleh sebagian besar orang. dan kesendiriannya mengusik tanya;kenapa? toh hampir semua orang melakukannya!

Tap dia tidak. karena dia mengerti apa itu dosa, memahami dengan pemahaman yang menyeluruh, dan tidak akan berkata,"Dosa gak bejendol!"�

Karena dia telah terimunisasi, tidak tersterilisasi. Dia mampu melawan invasi kuman itu dengan imunitasnya,tanpa perlu binasa.


Sabtu, 03 Oktober 2009

karena tulisan adalah sayap hati


banyak yang kudapatkan,banyak juga yang kulupakan
mungkin hal paling dasar yang kulupakan tentang menulis, ngeblog
adalah tentang sebuah mimpi untuk
menyentuh hati manusia

ya, saat pertama kali aku menulis
lalu membuka blog
aku ingin menulis
merangkai sejuta kata dalam rangkaian kalimat, yang mampu menyentuh hati manusia:

membuka hati yang tertutup
menyembuhkan hati yang luka
menyatukan keping hati yang patah

karena tulisanku adalah penyambung sabda Ilahi
aku ingin semua dapat membacanya
mengenal dunia dalam diri mereka sendiri
karena itu aku tidak mengurung istana aksara ini hanya dalam diary

begitu indah terangkai niat saat pertama kali aku mencoba menggerakkan jari merangkai kata
mengukir makna
hingga aku terlupa
aku putus asa
menganggap aksaraku alpa dari menyentuh dinding hati

hari ini
seorang saudaraku mengingatkanku

karena hatinya telah tersentuh asa
oleh rangkaian alpabet yang mungkin telah terlupa
tentang sebuah negeri utopis yang bernaung damai

terima kasih...
telah mengingatkanku kembali

NB: makasih mbak nisa,your word inspired me again

Jumat, 02 Oktober 2009

Negatif

hari ini, aku bertanya: sudah sejauh mana perjalananku?

Jujur, terkadang aku lelah. lelah menjadi orang yang selalu dipandang baik, lelah menjadi orang yang selalu dilihat lekat oleh orang lain,"Gak pernah marah ya? bisa marah?"

Lelah.

Aku tidak selalu baik. juga bukan tipe orang yang mau pura-pura baik. aku selalu tampil apa adanya. atau setidaknya selalu berusaha

Tapi terkadang aku lelah.

Aku lelah tersenyum, lelah bersikap positif, lelah menebar kebaikan

Terkadang, aku kembali tergoda untuk bersikap radikal, revolusioner, pemberontak.

Di dunia dakwah kampus, aku tergolong manusia pemberontak.

bukan dengan kata-kata memang, aku tidak menyebutkan pemberontakanku dengan apa yang dapat kuucapkan, keterusterangan.

Tapi aku muak pada tingkah laku orang yang menjual simbol. bukan jenggot, jilbab lebar hingga menutupi betis, atau bahkan kata salam yang menjadikan kita muslim sejati, manusia sejati.padahal hijab itu hanya dipakai di dalam mushalla, sisanya berterbangan dalam kalimat menggoda, tawa, dan kemesraan berselimut.

membatasi aktifitas, menutupi diri dari ilmu lain,"Baca apaan tuh! mendingan baca Al-Qur'an."

That's right, tapi tepatkah tindakan menutupi diri dalam mencari ilmu? Bhkan Hudzaifah bertanya tentang keburukan disaat sahabat lain bertanya ttng kebaikan.

Ahhhh,....

bukankah ukuran keshalihan adalah ukuran Allah? Pembeda yang didapatkan bukan dengan mencari nama di mata manusia. bukan dengan ukuran itu.

aku salut, respek dengan orang-orang yang melabeli dirinya sendiri 'brengsek',bangsat, dan tidak mau dianggap baik, karena label 'baik' itu menjadi beban, berhala bagi diri sendiri.

aku tidak mau dianggap baik

aku/ana/gue/saya adalah manusia biasa

bahkan saat aku lelah, aku ingin jadi manusia

"De, kamu baik banget ya."

StOP IT!

aku tidak perlu itu, bahkan tindakan menjudge itu,"ngapain gabung di CIMSA? anak2nya aneh gitu."

yeah, i see.

But the fact, i seek for a real human, and i believe, they are everywhere. Manusia malaikat itu tidak hanya terkurung di tembok-tembok mesjid. mereka bisa ada di manapun.bahkan di warung kopi, tempat penjagalan, bahkan di sudut jalan tempat manusia makan manusia untuk hidup.bahkan di CIMSA sekalipun.

Aku selalu percaya itu.

Karena aku telah melihat beberapa diantaranya. Dan mereka, tidak mengurung kebaikannya di tembok mesjid, dan melempar kejahatannya di luar tembok untuk dikenakan kembali saat perlu. Tapi mereka menemukan itu dalam diri mereka, dan melemparnya ke sekeliling mereka, hingga menemukan fitrah yang sesungguhnya.

"Bengu lo."

It's better for me, setidaknya, tidak perlu berpura2 positif.

Gw bengu, selesai kan?