Sabtu, 31 Mei 2008

TUHAN DALAM LOGIKA HATI

Nitszche mengatakan dengan lantang, “Tuhan telah mati!” Tiga kata yang membuat kaum rohaniawan meraung marah, sedang kaum atheis menjerit senang karena merasakan dukungan kuat terhadap ‘iman’ mereka. Nisztche, bagi kalangan non-believe adalah imam. Yaitu manusia super yang mampu membunuh Tuhan. Begitu hebatnya dan agungnya sosok Nisztche di mata para pembenci tuhan.
Benarkah seperti itu? Faktanya, ‘filsuf ‘ pembunuh Tuhan ini dalam kesehariannya tidaklah tampil sebagai manusia super. Sebaliknya, yang ia lakukan hanyalah mengasingkan diri dan menutup dirinya dari sesama manusia. Satu-satunya teman bicaranya hanyalah anjing pudel kesayangannya. Ia menutupi kelemahan dirinya sendiri dengan penyangkalannya akan Tuhan.
Inilah fenomena dunia purba dengan wajah baru. Fenomena yang sudah ada dari abad awal kehidupan manusia, dan terus ada sepanjang zaman. Penolakan akan Tuhan.
Ditandai munculnya para orientalis, yang memperbincangkan Tuhan dengan nada sinis, membicarakan kebendaan Tuhan, dan menghubung-hubungkannya dengan berbagai konsep ilmu logika. Lalu para komunis yang menganggap kehadiran Tuhan hanya sebagai candu bagi kehidupan manusia, menghapuskan kata agama dari undang-undang dan menjadikan Tuhan sebagai hal yang tabu untuk disebut-sebut.
Sekarang, ijinkan penulis untuk membicarakan Tuhan. Yaitu Tuhan yang menggerakkan alam semesta. Terlepas dari apakah Ia adalah Allah, Yesus, Buddha, Yahwee, atau apalah panggilan yang dilekatkan manusia pada-Nya. Penulis ingin membicarakan tentang penolakan Tuhan oleh sebagian komunitas dunia. Baik lintas pendidikan, organisasi, hingga Negara. Juga mengenai kesalahan persepsi dalam memahami diri Tuhan. Sekedar sebagai bahan perenungan untuk kita semua.
Yang mengejutkan, fenomena penolakan ataupun kesalahpahaman terhadap Tuhan ini bukan saja dilakukan oleh orang-orang yang meneriakkan tentang ajaran komunisme dan atheisme dengan keras saja, tetapi—anehnya—juga dilakukan oleh orang-orang yang sudah memeluk agama tertentu. Bahkan dari umat Islam sendiri, penolakan terhadap Tuhan ini terkadang muncul ke permukaan.
Sebut saja nama Dawam, tokoh Muhammadiyah yang kemudian menobatkan dirinya sebagai pluralis sejati. Secara blak-blakan ia mengungkapkan kegamangannya terhadap eksistensi Tuhan. Baginya, Tuhan itu bisa ada, bisa tidak. Lain lagi dengan Gunawan Moehamad yang mengatakan, “Saya tidak suka Tuhan yang bengis.” Ayu Utami penulis novel “Saman” juga pernah mengatakan dalam suatu wawancaranya dengan radio Female Radio bahwa ia tidak terlalu peduli dengan urusan Tuhan.
Terlepas dari anggapan apapun manusia tentang Tuhan, benarkah manusia bisa menegakkan eksistensi dirinya sendiri? Benar-benar sendirian, tanpa dukungan dari kekuasaan luar biasa yang dipanggil Tuhan?
Jika kita pikirkan dan kita reka ulang. Berbagai fakta menunjukkan bahwa manusia tidak pernah bisa lepas dari Tuhan. Sebagai ilustrasi, seseorang yang terdampar di lautan luas dan terancam dalam badai besar akan reflek minta tolong. Padahal jika dipikirkan dengan logika, pada siapa ia ingin minta tolong? Lautan itu sangat luas, lagipula di tengah badai yang menderu suara lain sekeras apapun pasti akan ditenggelamkan oleh gemuruh badai. Pada siapa sebenarnya ia minta tolong?
Begitu juga dengan para ilmuwan yang cenderung sekuler dan atheis. Mereka mengharamkan kata ‘keajaiban’ di dalam laboratorium karena percaya tak ada yang namanya keajaiban. Mereka percaya semua peristiwa dapat dijelaskan dengan hukum Fisika. Namun kenapa ketika sesuatu yang tidak diketahui atau tidak terduga muncul dan meluluhlantakkan pesawat jet yang telah mereka rancang dengan sangat cermat, mereka dapat menyebut hal misterius faktor X; yang tak diketahui, tak terdefinisi (undefinition). Jika semua dapat dijelaskan dan diprediksi dengan fisika, apa penyebab lahirnya ‘sesuatu yang tidak diketahui’ itu?
Einstein, sebagai seorang ilmuwan fisika terkemuka, sebaliknya sangat menghormati Tuhan sebagai suatu kekuatan misterius di alam yang mengatur keseimbangan di alam. Ia menghormati keberadaan Tuhan sebagai suatu ‘energi’. Dan ia tidak membenci Tuhan atau menganggap Tuhan sebagai suatu benda. Ia punya pemahaman tersendiri tentang Tuhan. Ia mengakui bahwa Tuhan itu ada. Secara pribadi, Einstein adalah sedikit dari kalangan ilmuwan yang sangat bersemangat berbicara masalah teologi.
Semua orang punya pemahaman tersendiri tentang Tuhan. Baik diakui maupun tidak.
Inilah poin dari destruksi nilai ketuhanan pada manusia. Pemahaman mereka akan Tuhan. Pemahaman yang terbentuk dari ilmu, lalu formulasikan oleh lingkungan dan pengalaman. Sebahagian mengikuti petunjuk dari nurani, sebahagian lagi akhirnya tersesat.
Alangkah baiknya jika Tuhan tidak dipahami dengan logika, karena akal manusia yang dangkal dan picik tidak akan mampu memahami dan menafsirkan Tuhan sebagaimana Ia memahami diri-Nya sendiri.
Daripada mencoba merumuskan Tuhan hingga dapat diturunkan dalam sederetan rumus dan persamaan matematika, mengapa tidak mencoba untuk memahami Tuhan dengan hati saja? Memang Tuhan tidak mustahil dipahami dengan akal. Namun pemahaman Tuhan dengan hati menjadikan kerumitan masalah konsep ketuhanan menjadi lebih sederhana. Kesederhanaan yang sebenarnya lebih disukai manusia. Kesederhanaan yang membuat manusia sadar mengenai kebutuhannya akan kehadiran Tuhan.
Apa yang membuat manusia membutuhkan Tuhan? Tidak lain dan tidak bukan karena manusia menyadari, bahkan di bawah alam sadarnya, bahwa manusia adalah bakteri mikroskopis di tengah jagad raya, yang jauh lebih lemah dari bayi tikus sekalipun. Manusia menyadari dengan mata hatinya bahwa alam semesta yang bergerak dengan keteraturan yang sistematis ini tidaklah mungkin dilahirkan dengan kebetulan atau sebab akibat belaka.
Banyak orang dalam sejarah yang telah lebih dulu memahami Tuhan dengan hatinya dan memutuskan bahwa Tuhanlah yang terbaik. Chernenko, seorang pemimpin Uni Soviet yang berpaham komunis, misalnya. Mengakui pada saat sakitnya yang tak tersembuhkan bahwa hanya tuhanlah yang dapat menjadi sandaran dan harapan terakhir manusia.
Semua ungkapan ketidakpedulian pada Tuhan hanya lahir dari kepicikan akal manusia belaka. Namun pada akhirnya, sengaja atau tidak, manusia akan tetap berlabuh dan bersandar pada Tuhan, satu-satunya tempat dimana jiwa manusia dapat terlepas dari terkukungan dan bersih dari segala sampah logika yang memuakkan.

DILEMA PEMIMPIN IDEAL

Sosok-sosok pemimpin besar dalam sejarah merupakan topik yang selalu menyenangkan untuk dibahas. Di Perancis, ada sosok seperti Napoleon Bonaparte yang merupakan tokoh abadi revolusi. Di Amerika Serikat sendiri, ada sosok-sosok yang begitu melegenda seperti Abraham Lincoln dan Kennedy, sehingga sebagian kisah hidup mereka seolah sudah menjadi semacam mitos. Tak jauh-jauh, di Indonesia ada sosok Soekarno yang merupakan singa mimbar terbesar sepanjang sejarah. Saking besarnya nama Soekarno sendiri, orang Indonesia di luar negeri dikenali dari kopiah yang dikenakannya, yang memang menjadi ciri khas Soekarno.
Nama-nama di atas memang hanya secuil kecil dari pemimpin-pemimpin besar dunia. Sebagian masih dianggap sangat kontroversial. Dipuja bagai malaikat di satu sisi, namun juga sekaligus dicaci bagai setan di sisi lainnya. Sebut saja Soekarno yang dipuja sebagai Bapak Proklamator namun dicaci karena poligaminya, juga seperti sosok Imam Besar Khomeini yang kontroversial dengan paham Syiahnya. Karena memang tak ada manusia yang sempurna.
Memilih pemimpin yang tepat seperti mereka memang sangatlah sulit. Apalagi dalam masa-masa sekarang. Di mana para politikus benar-benar tikus dan penjabat sukar dibedakan dengan penjahat. Pemimpin yang benar-benar memiliki jiwa pemimpin seolah telah ditenggelamkan. Rakyat kebingungan, akhirnya muncullah para pemimpin-pemimpjn yang berjiwa boneka.
Bagaimanakah pemimpin yang ideal itu sesungguhnya?
Pemimpin yang ideal bukanlah dilihat dari latar belakangnya. Bila kita mengatakan bahwa pemimpin yang berlatar belakang militer itu cenderung berdarah dingin (seperti Soeharto misalnya), maka dalam sejarah Turki kita akan temukan nama Mustafa Kemal Attarturk yang merupakan seorang pemimpin dan pahlawan Turki yang tanpa cacat cela (di luar paham sekularismenya). Pemimpin ideal juga bukan dilihat dari keadaan ekonominya, karena bukankah Ahmadinejad sendiri berasal dari keluarga yang sangat sederhana? Pemimpin yang ideal juga bukan dilihat dari tingkat pendidikan, ataupun dari silsilah keluarganya. Sama sekali bukan.
Pemimpin yang ideal itu ditandai dari satu hal saja: jiwa yang dimilikinya.
Ya, jiwa pemimpin. Itulah yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin. Bukan jiwa penguasa, diktator, apalagi jiwa budak. Sama sekali bukan. Melainkan jiwa pemimpin yang tegas, memiliki pendirian, merakyat, dan mampu menguasai keadaan. Ia tahu apa yang terbaik untuk rakyatnya, bukan apa yang terbaik untuk dirinya sendiri. Ia juga bisa memilah antara saran atau pemaksaan dari pihak asing. Dan ia tidak takut dengan kekuatan asing manapun yang berusaha mengancam kedaulatan rakyatnya.
Pemimpin yang ideal bukanlah pemimpin yang menyembah-nyembah Bank Dunia untuk minta pinjaman, lalu membebankan hutang tersebut pada setiap jengkal punggung rakyatnya yang bungkuk menahan beban kemiskinan. Ataupun pemimpin yang dapat tidur di istana megah dan pesiar ke luar negeri dengan pesawat pribadinya, sementara rakyatnya tidur beralaskan kardus bekas dan sesak dalam kemacetan. Sama sekali bukan.
Pemimpin yang ideal bukan diktator atau penguasa yang membebankan pajak tinggi hingga rakyat harus makan dari sisa-sisa beras. Ia juga bukan budak asing, yang ketakutan dan tunduk pada kekuasaan besar, bahkan sampai rela menghamburkan kas negara hingga mencapai milyaran demi menyambut kedatangan singkat seorang Presiden negara lain yang tidak sampai satu hari. Pemimpin ideal haruslah berani, tegas, dan berjiwa luhur. Ia mempersembahkan hidupnya untuk melayani rakyat.
Pemimpin adalah simbol dari suatu negara. Seperti itukah citra pemimpin, seperti itu jugalah citra negaranya. Tak percaya? Coba lihat, ketika dunia mencaci Amerika dila perang, maka sesungguhnya siapakah yang gila perang? Apakah tanahnya, penduduknya, ataukah tentaranya? Jika dikatakan penduduknya, jelas bukan, karena penduduk Amerika sendiri pun banyak yang menentang perang. Jika dikatakan tentaranya, belum tentu juga. Karena mereka hanya pekerja yang dibayar oleh negaranya. Jadi siapa sebenanya yang punya ide, dana, dan kesenangan untuk berperang? Pemimpinnya pastinya. Pemimpinlah yang sebenarnya disebut negara itu. Dan itulah sebab utamanya mengapa memilih pemimpin yang salah hanya akan menghancurkan negara itu sendiri pada akhirnya.
Tanggung jawab menjadi pemimpin memang sangatlah berat. Di dunia, ia harus benar-benar meletakkan dirinya sebagai pelindung dan pengayom seluruh rakyatnya. Umar ra. bahkan pernah mengatakan bahwa seekor kambing zakat di pinggir sungai Tigris pun menjadi tanggung jawabnya saat ia menjabat tampuk pemerintahan. Padahal itu hanyalah seekor kambing. Begitulah perumpamaan tanggung jawab yang di emban seorang pemimpin. Lalu mengapa kita masih ribut berusaha jadi pemimpin? Tidakkah kita takut dengan firman Allah berikut ini?

“(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barang siapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.
Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (Al-Isra’ 17:71-72)

Jangan menjadi pemimpin, jika yang terbyang hanya penghormatan ataupun gaji. Apalgi jika menjadi pemimpin negara, uang terbayang hanya istana negara na megah berikut gaji dan segala fasilitas kepresidenan. Sebab bisa jadi bukan itu yang kita kita dapatkan, melainkan cacian rakyat sebelum dan sesudah mati.

Bukan Hanya Salah ‘Para Tikus’

Semua orang pasti mengenal nama Fir’aun. Raja Mesir congkak yang berakhir tragis di Laut Mati. Ia tenggelam di sana sewaktu mengejar Nabi Musa as. dan pengikutnya. Jasadnya lalu terlempar kembali ke daratan dan masih bisa dilihat oleh publik hingga kini.
Sejarah kesombongan Fir’aun dengan kesombongan luar biasa tinggi hingga berani memproklamirkan dirinya sebagai Tuhan, benar-benar sebuah kisah yang pernah terjadi dan mengandung sejuta ibrah untuk direnungkan. Sejarah itu sendiri tertulis di dalam kitab suci dan dibuktikan oleh penelitian ilmiah. Sehingga tak ada alasan untuk mengingkari kisah Fir’aun ini. Dan salah satu dimensi paling menarik dari kisah Fir’aun ini sendiri adalah mengenai kesombongannya. Ya, kesombongan yang begitu tinggi dan mampu membuat kepala Raja Mesir ini menggelembung sebesar dunia.
Kesombongan Fir’aun ini tidak terjadi dengan sendirinya. Ia berani sombong dan bersikap congkak tersebut tentu memiliki dasar. Katakanlah; mungkinkah ia berani bersikap seperti itu jika tidak satu orang pun yang mengukuhkan eksistensinya sebagai Tuhan?
Ya, di sinilah poin penting dari kesombongan Fir’aun. Dukungan dari orang-orang di sekitarnya sebagai pilar pengukuh kesombongannya. Orang-orang di sekitarnya menjilat dan menyembahnya sebagai Tuhan. Yakinlah, jikalau tidak seorang pun mengakui Fir’aun sebagai Tuhan, maka kesombongan Fir’aun tidak akan menggelembung sedekimian besarnya.
Semua renungan ini penulis dapatkan dari sebuah buku kecil berjudul “Bukan Hanya Salah Fir’aun”. Buku sarat hikmah ini seolah meneriakkan peringatan mengenai bencana hebat yang dapat ditimbulkan oleh kesalahan yang ditopang oleh dukungan oleh orang banyak.
Kaitan mengenai fenomena tragis nasib Fir’aun ini sangatlah erat dengan kehidupan rakyat Indonesia dan rakyat di Nanggroe ini. Rakyat yang terlalu penurut pada pemimpin dan bungkam telah kembali berdiri tegak bisu dalam peta pergerakan politik pasca reformasi. Rakyat kecil seolah menjelma kembali sebagai pion-pion belaka. Seandainya ada yang bergerak mengkritik penguasa pun, suaranya begitu lemah dan sayup-sayup hingga hanya sedikit yang mendengarnya.
Contohnya kecilnya bertebaran di sekitar kita. Dalam masalah biroraksi saja, kita masih lemah untuk mengkritik berbagai kecurangan yang jelas-jelas terjadi di depan mata dan mengundang kegeraman. Kita masih bisu saat dimintai ‘uang admisnistrasi’ yang tidak jelas ujung dan pangkalnya saat mengurus KTP atau dokumen-dokumen kependudukan lain. Kita masih menunduk dan mengangguk saat dimintai pungli yang memang jelas ilegal. Yang kita pikirkan hanyalah “Yah, daripada urusannya lama.” Kita ingin semua diperlancar, ingin diri kita tetap aman. Jadi kita bisu, kita hanya mengangguk, tanpa sadar bahwa diri kitalah yang sebenarnya telah menjadi pondasi pendukung sistem yang dzalim ini. Kitalah para supporter alias pendukung utama dari semua akar korupsi di kalangan birokrasi Nanggroe ini.
Diri kita mengumpat, memaki semua bentuk korupsi. Kita teriak “BERANTAS KKN!” tanpa menyadari bahwa kita sendirilah yang telah memupuk dan menyirami akar dari KKN itu. kita tidak berani menggeleng atau minta penjelasan dengan tegas saat dicurangi dalam birokrasi. Mengapa? Mengapa kita memilih diam di depan saat melihat kecurangan dan kebusukan itu terjadi lalu teriak di belakang? Begitu munafikkah rakyat negeri ini?
Jika kita memang benci melihat kemunafikan para pejabat, jika kita memang mengumpat para koruptor, jika kita setuju menjagal para pemimpin yang serakah; seharusnya yang kita lakukan terlebih dahulu adalah mengintrospeksi diri kita sendiri. Tanyakanlah pada diri kita sendiri, tentang berapa banyak dukungan yang telah kita berikan tanpa sadar atau justru dengan sangat sadar terhadap berbagai praktek menyimpang di tanah air.
Saat kita semua berhenti dari menyirami ‘akar’ itu, saat itu juga segala praktek menyimpang itu akan melemah. Namun, jika kita tetap memilih menjadi pribadi pengecut yang hanya tahu berteriak di belakang, maka jangan hanya salahkah penguasa dan kalangan elit di atas sana saat negeri ini benar-benar lumpuh. Meminjam kata-kata Aa Gym: Mulailah dari diri sendiri, mulailah dari hal yang kecil, mulailah sekarang juga.
Sekarang juga, berhentilah memberikan dukungan pada segala bentuk kedzaliman. Agar tragedi Fir’aun dan para pengikutnya tidak terulang lagi di sini.

Busuknya sepotong Hati

“Saya berterima kasih…” kata kuntoro.
Terima kasih kembali, pak!
Menilik berita yang dimuat di harian Aceh, kamis 27 Desember. Penulis begitu terpesona dengan kepiaiwaian kuntoro dalam bersilat lidah, untuk membela dirinya sendiri.
Sekilas isi berita adalah upaya Kuntoro untuk menyatakan semua opini masyarakat tentang kinerja BRR adalah salah. Bahkan Kuntoro mengatakan bahwa rekontruksi Aceh berjalan lebih baik dari pada rekontruksi di Iran, India, dan Turki.
Sekilas, pernyataan ini benar-benar seolah tampak meyakinkan. Namun sayangnya Kuntoro melewatkan fakta bahwa Aceh menerima perhatian dari dunia internasional jauh lebih besar dari yang diterima oleh India, Iran, dan Turki. Bahkan pada tahun 2006, dua tahun pasca tsunami, dana yang mengucur ke Aceh telah mencapai US$ 5,8 milyar, yang terdiri dari pemerintah (US$ 2 milyar), LSM (US$ 1,6 milyar), dan Donor (US$ 2,2 milyar). Ini menunjukkan focus dunia yang sangat besar pada masalah Aceh. Bahkan sekjen PBB Kofi Annan sendiri mengemukakan dalam suatu pernyataannya saat berkunjung ke Aceh, bhwa ia sama sekali tidak menyangka kondisi Aceh ‘separah ini’.
Pada pernyataannya ini, Kuntoro sama sekali tidak berusaha mengklarifikasi berita-berita mengenai kegiatan foya-foya dan pemngahamburan dana dalam tubuh BRR yang justru memperkaya para pejabat dan orang dalam sendiri. Ini menimbulkan pertanyaan: mengapa? Atau pernyataan: jadi benar!
Lebih lanjut, pada paragraph ke-9, kuntoro menjelaskan bahwa ‘masih banyak kekurangan disana sini pada rekontruksi Aceh yang harus diperbaiki’. Pernyataan ini menunjukkan jurang yang sangat besar:masa tugas BRR akan selesai dalam satu tahun empat bulan lagi. Sedangkan ‘kekurangan’ yang disebut Kuntoro sangatlah banyak dan rumit. Mulai dari kekurangan 30 ribu unit rumah untuk dibangun, pendidikan, perbaikan prasarana umum, hingga ke masalah-masalah yang lebih spesifik seputar soal rumah bantuan yang tidak layak dihuni maupun kualitas sarana dan prasarana umum yang dipertanyakan .
Kekurangan yang disebut Kuntoro di atas bukan hanya terlihat saat ini saja. Bahkan saat BRR mulai bergerak di tahun pertama dan keduanya, aneka variasi kelalaian mulai bermunculan.
Pada tahun-tahun awal pasca tsunami, di tahun 2005, BRR memang telah menunjukkan berbagai keberhasilan telah dilakukan dalam rehab dan rekons Aceh, diantaranya; pembangunan fisik yang berupa jalan, jembatan, kegiatan ekonomi berskala kecil, pembangunan sarana dan prasarana, dll. Namun, Daya serap untuk tahun 2005 hanya sebesar 17,61% (US$ 775 juta dari US$ 4,4, milyar). Realisasi daya serap yang sangat minim ini membuktikan bahwa proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pasca setahun tsunami masih sangat minim dan lambat. Pada tahun kedua, berbagai rumor dan opini masyarakat mengenai kelambanan kerja BRR semakin mengalir deras. Seperti dalam penanganan kemiskinan. Faktanya, upaya perbaikan ekonomi masyarakat pada tahun 2006 dirasakan masih belum optimal. Indikasi ini dilihat dari masih tingginya angka kemiskinan (43,67%) atau 1.760.764 jiwa, pengangguran terbuka (46,88%) atau 1.255.388 jiwa. Langkah-langkah perbaikan ekonomi yang strategis, sistematis dan sinergis pun masih belum kelihatan. Hal ini juga dibuktikan dengan minimnya daya serap anggaran per November 2006 yang hanya sebesar 26,84%.
Dan di tahun ketiga pasca tsuami ini, kritikan kembali mengalir untuk BRR. Salah satunya disampaikan oleh Kepala Bappeda NAD, A.Rahman Lubispada satu sesi seminar dalam workshop tiga hari di Medan bertema "Tiga Tahun Tsunami: Dimana Kita Saat Ini," berakhir Minggu (21/10). Hadir Deputi Operasi BRR-NAD, Edi Purwanto.
Lubis mengatakan, selain pembangunan fisik yang masih belum jelas dan tidak tepat sasaran, pembangunan non fisik yang dilakukan BRR di NAD ternyata juga tidak kelihatan. Padahal dana yang dikeluarkan sudah cukup banyak, dan masa tugas BRR sendiri hanya tinggal satu tahun enam bulan lagi.


Seperti masalah kemiskinan yang belum teratasi, meski jumlah angka masyarakat miskin NAD diakuinya mengalami penurunan. Begitupun masalah jumlah angka pengangguran di provinsi itu.
Kemudian masalah ekonomi desa yang belum bangkit. Menurut Lubis, grafik laju pertumbuhan ekonomi NAD memang sudah positif, namun hal itu bukan dikarenakan bangkitnya sektor riil. Tetapi karena dana pemerintah dan dana donor yang begitu besar di NAD, dan prilaku masyarkatnya yang menjadi sangat konsumtif.
Untuk masalah pendidikan, lanjutnya, persoalan sebenarnya bukan pada masalah fasilitas . tetapi pada mutu dan distribusi pemanfaatan fasilitas yang belum merata. "Secara kualitas, guru yang layak mengajar di NAD jumlahnya kurang dari 50 persen. Dan itupun hanya terkonsentrasi di kota-kota," ujar Lubis.
Begitupun dengan pembangunan infrastruktur, lanjutnya, dari beberapa infrastruktur yang telah dibangun BRR, namun infrastruktur andalan untuk NAD, seperti pelabuhan utama, justru tidak ada.

Semua fakta diatas memicu kemarahan masyarakat semakin memuncak. Ini dapat dimaklumi, karena tindakan BRR juga semakin menunjukkan sikat heartless atau bisa disebut tidak punya hati. Para pejabat dan oknum-oknum yang terlibat di BRR hidup melimpah dengan bermanjakan fasilitas, melancong ke luar negeri, dan menggembungkan kantong mereka dengan gaji yang luar biasa besar.
Sebenarnya, yang harus Kuntoro lakukan bukanlah meminta dukungan eksternal. Bukan juga berkelit dan menganggap dirinya bersih. Hal paling bijaksana yang dapat dia lakukan adalah melihat ke dalam dirnya sendiri. Masih adakah secuil hati dalam dirinya untuk peduli pada nasib ribuan masyarakat Aceh yang tinggal di barak-barak pengungsian, pada orang miskin yang terlunta-lunta tanpa mata pencaharian, ataupun pada nasib Aceh sendiri yang belum pulih dari trauma pasca tsunami.
Terakhir, penulis ingin menyampaikan pesan untuk Kuntoro sendiri, ”Pak Kuntoro, jangan hanya berkata-kata. Jangan hanya juga bekerja untuk dirimu. Jika engkau masih punya sepotong hati, maka bekerjalah untuk nuranimu, untuk kemanusiaan! Jika tidak, percayalah bahwa Tuhan melihat!”